My task

Senin, 30 Juli 2012

makalah persepsi



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk yang dilahirkan paling sempurna. Manusia memiliki kemampuan kognitif untuk memproses informasi yang diperoleh dari lingkungan di sekelilingnya melalui indera yang dimilikinya, membuat persepsi terhadap apa-apa yang dilihat atau dirabanya, serta berfikir untuk memutuskan aksi apa yang hendak dilakukan untuk mengatasi keadaan yang dihadapinya. Hal-hal yang dapat mempengaruhi kemampuan kognitif pada manusia meliputi tingkat intelejensi,kondisi fisik, serta kecepatan sistem pemrosesan informasi pada manusia. Bila kecepatan sistem pemrosesan informasi terganggu, maka akan berpengaruh pada reaksi manusia dalam mengatasi berbagai kondisi yang dihadapi.
Keterbatasan kognitif terjadi apabila terdapat masalah atau gangguan pada kemampuan kognitif. Masalah yang dialami bisa terjadi sejak lahir, atau terjadi perubahan pada tubuh manusia seperti terluka, terserang penyakit, mengalami kecelakaan yang dapat menyebabkan kerusakan salah satu indera, fisik atau juga mental. Akibat dari adanya keterbatasan kognitif ini, manusia menjadi tidak mampu untuk memproses informasi dengan sempurna. Dengan ketidaksempurnaan ini maka manusia yang memiliki keterbatasan kognitif mengalami masalah dalam meraba, mempelajari atau berfikir untuk bereaksi terhadap keadaan yang dihadapinya.
Persepsi dalam arti sempit melibatkan pengalaman kita tapi secara psikis pengertian itu tidaklah tepat. Tetapi lebih tepatnya persepsi merupakan proses yang menggabungkan dan mengorganisir data-data indera kita ( penginderaan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat menyadari di sekeliling kita, termasuk sadar dengan diri kita sendiri. Dan didalam mempersepsi keadaan sekitar maka kita harus melibatkan indra kita maka akan lahir sebuah argumen yang berasal dari informasi yang dikumpulkan dan diterima oleh alat reseptor sensorik kita sehingga kita dapat menggabungkan atau mengelompokkan data yang telah kita terima sebelumnya melalui pengalaman awal kita.
B.      TUJUAN
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan tentang persepsi, faktor-faktor yang mempengaruhinya , dan diharapkan dapat bermanfaat bagi kita semua. Mempelajari tentang persepsi lebih mendalam sehingga dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran disekolah nantinya.

C.    RUMUSAN MASALAH

1.      Apakah pengertian persepsi?
2.      Bagaimana proses terjadinya persepsi?
3.      Bagaimana tahap terbentuknya persepsi?
4.      Bagaimana perkembangan perseptual?
5.      Apa saja sifat-sifat persepsi?
6.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    DEFINISI SENSASI
Sensasi pada dasarnya merupakan tahap awal dalam penerimaan informasi. Sensasi, atau dalam bahasa inggrisnya sensation, berasal dari kata latin, sensatus, yang artinya dianugerahi dengan indra, atau intelek. Secara lebih luas, sensasi dapat diartikan sebagai aspek kesadaran yang paling sederhana yang dihasilkan oleh indra kita, seperti temperatur tinggi, warna hijau, rasa nikmatnya sebatang coklat. Sebuah sensasi dipandang sebagai kandungan atau objek kesadaran puncak yang privat dan spontan.
Sensasi tanpa persepsi atau sensasi  murni jarang terjadi seperti ketika kita mendengar suara aneh, betapapun asingnya, secara tidak sadar kita akan segera menghubungkannya dengan sesuatu yang telah kita kenal. Adapun sensasi murni mungkin akan tejadi dalam peristiwa dimana rangsang warna ditunjukan untuk pertama kali kepada seseorang yang sejak lahirnya buta dan tiba tiba dapat melihat.
Benyamin B. Wolman (1973, dalam Rakmat, 1994) menyebut sensasi sebagai ”pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indra”. Apa pun definisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Melalui alat indera, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu dengan alat inderalah, manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Tanpa alat indera, manusia sama, bahkan mungkin rendah lebih dari rumput-rumputan, karena rumput dapat juga mengindra cahaya dan humiditas.
            Sensasi sering dibedakan dari persepsi, yang melibatkan penilaian, inferensi, interpretasi, bias, atau prakonseptualisasi, sehingga bisa salah. Sensasi dipandang sebagai pasti, ditentukan secara mendasar, fakta kasar. Menurut beberapa pendapat, sensasi lebih berkonotasi pada sebuah hubungan dengan perasaan (tetapi bukan emosi), sedangkan persepsi lebih berhubungan dengan kognisi. Sensasi sering digunakan secara sinonim dengan kesan inderawi, sense datum, sensum, dan sensibilium. Misalnya meja yang terasa kasar, yang berarti sebuah sensasi dari rabaan terhadap meja. Sebaliknya persepsi memiliki contoh meja yang tidak enak dipakai menulis, saat otak mendapat stimulus rabaan meja yang kasar, penglihatan atas meja yang banyak coretan, dan kenangan di masa lalu saat memakai meja yang mirip lalu tulisan menjadi jelek.      
Proses sensasi :
pengindraan
                  Rangsangan               diterima otot indra             otak  =  menghasilkan kesan
Syarat-syarat Terjadinya Sensasi
a.    Adanya objek yang diamati atau kekuatan stimulus.Objek menimbulkan stimulus
yang mengenai indera (reseptor) sehingga terjadi sensasi.. Untuk bisa diterima oleh
indera diperlukan kekuatan stimulus yang disebut sebagai ambang mutlak (absolute
threshold).
b.    Kepastian alat indera (reseptor) yang cukup baik serta syaraf (sensoris) yang baik
sebagai penerus kepada pusat otak (kesadaran) untuk menghasilkan respon
c.    Pengalaman dan lingkungan budaya. Pengalaman dan budaya mempengaruhi
kapasitas alat indera yang mempengaruhi sensasi

B.     DEFINISI PERSEPSI
Secara etimologis presepsi berasal dari bahasa latin preceptio;dari  preceptio, yang artinya menerima atau mengambil. Adapun proses dari persepsi itu sendiri adalah yang menafsirkan stimulus yang telah ada didalam otak.
Kata “presepsi” biasanya dikaitkan dengan kata lain, seperti: presepsi diri, presepsi sosial (Calhoun &Acocela, 1990; Sarwono, 1997; Gerungan, 1987), dan presepsiinterpersonal (Rahmat, 1994). Dalam kepustakaan berbahasa inggris istilah yang banyak digunakan ialah “social perception”. Pada dasarnya , objek berupa pribadi memberi stimulus yang sama pula.
Definisi Persepsi menurut beberapa pakar :
1.        Leavit, 1978 mengatakan presepsi adalah bagaimana sesorang memandang atau mengartikan sesuatu.
2.        Devito (1997:75), presepsi adalah proses ketika kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indera.
3.        Yusuf (1991: 108) menyebut presepsi sebagai “pemaknaan hasil pengamatan”
4.        Gulo (1982: 207) presepsi ialah proses seseorang menjadi sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera.
5.        Rakhmat (1994: 51), presepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
6.        Atkinson, presepsi adalah proses saat kita mengorganisasikan dan menafsirkan pola stimulus dengan lingkungan.
7.        Verbeek (1978), presepsi dapay dirumuskan sebagai suatu fungsi yang manusia secara langsung dapat mengenal dunia riil yang fisik.
8.        Brouwer (1983: 21), presepsi ialah suatu reflika dari benda di luar manusia yang intrapsikis, dibentuk  berdasar rangsangan-rangsangan dari objek.
9.        Pareek (1996: 13), presepsi dapat didefinisikan sebagai proses menerima, menyeleksi, mengorganisasikan, mengartikan, menguji, dan memberikan reaksi pada rangsangan panca indera atau data.
Presepsi bisa dikatakan sebagai inti komukasi, sedangkan penafsiran (interpretasi) adalah inti presepsi , yang identic dengan penyandian-balik dalam proses komunikasi. John R. Wenburg dan William W. Wilmot,menyebutkan  “presepsi dapat didefinisikan  sebagai cara organisme  memberi makna” Rudolph F. Verderber, “presepsi adalah proses menafsirkan informasi indrawi”  (dalam mulyana, 2000: 167).
Organisasi dalam persepsi
1.    Wujud dan latar
            Objek – objek yang kita amati disekitar kita selalu muncul sebagai wujud (figure)sedangkan dengan hal-hal lainnya sebagai latar (ground).
Contoh :
Kalau melihat sebuah meja dalam kamar, maka meja itu akan tampil sebagai wujud dan benda lainnya dikamar itu menjadi latar atau ketika kita mendengar musik maka suara si penyanyinya adalah sebagai wujud dan iringan musik sebagai latar.
2.    Pola pengelompokan
            Hal-hal tertentu cenderung kita kelompokan dalam persepsi kita.
Seperti :
a.    Pengelompokan mengikuti prinsip kedekatan
           


                                                                                                              
Garis-garis diatas ini akan kita lihat sebagai tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari dua garis, sedangkan satu garis yang tertinggal disebelah kanan merupakan garis sisa yang berdiri sendiri. (kelompok yang mengikuti prinsip kedekatan.
b.        Pengelompokan mengikuti prinsip kesempurnaan.
 




Disini kita akan melihat tiga buah segi empat dengan satu garis sisa yang berdiri sendiri disebelah kiri. Kita cenderung melihat segi empat yang terputus-putus sebagai segi empat yang utuh. ( pengelompokan yang mengikuti prinsip kesempurnaan).

c.         Pengelompokan mengikuti pesamaan


                                                        








Lihat tiga garis lingkaran kecil dan tiga baris titik – titik yang mendatar, kita tidak akan melihatnya sebagai garis –garis tegak yang terdiri dari lingkaran dan titik berganti ganti
Yang mengakibatkan Perbedaan persepsi
1.      Perhatian
Biasanya kita tidak menangkap seluruh rangsangan yang ada di sekitar kita sekaligus, tetapi kita mengfokuskan perhatian kita pada satu atau dua objek saja.
2.      Set
Harapan seseorang tentang rangsangan yang akan timbul.
3.      Kebutuhan
Kebutuhan – kebutuhab sesaat maupun yang menetap pada diri seseorang, mempengaruhi persepsi orang tersebut. dengan demikian kebutuhan-kebutuhan yang berbeda menyebabkan pula perbedaan persepsi.
4.      System nilai
System nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat berpengaruh pula terhadap persepsi,
5.      Ciri kepribadian
Seperti A dan B bekerja di suatu kantor yang sama di bawah pengawasan satu orang atasan. A orang yang pemalu dan penakut, mempresepsikan bahwa pemimpinnya itu menakutkan dan perlu di jauhi, sedangkan B mempunyai lebih percaya diri, yang menganggap atasannya sebagai tokoh yang dapat diajak bergaul seperti orang biasa lainnya.
6.      Gangguan kejawaan
Gangguan kejiwaan dapat menimbulkan kesalahan persepsi yang disebut halusinasi.
Proses persepsi
Menurut Alport (dalam Mar’at, 1991) proses persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, dan pengetahuan individu. Pengalaman dan proses belajar akan memberikan bentuk dan struktur bagi objek yang ditangkap panca indera, sedangkan pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti terhadap objek yang ditangkap individu, dan akhirnya komponen individu akan berperan dalam menentukan tersedianya jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap objek yang ada. Persepsi merupakan bagian dari keseluruhan proses yang menghasilkan tanggapan setelah rangsangan diterapkan kepada manusia. Persepsi dan kognisi diperlukan dalam semua kegiatan psikiologis.


penafsiran
                                                                                                      penalaran
Rangsangan                 persepsi                pengenalan                                            tanggapan
                                                                                                      perasaan

Presepsi, pengenalan,penalaran,dan perasaan kadang-kadang disebut variable psikologis yang muncul di antara rangsangan dan tanggapan.
Dari segi psikologi dikatakan bahwa tingkah laku seseorang merupakan fungsi dari cara dia memandang jadi untuk menrubah tingkah laku seseorang, harus dimulai dari mengubah persepsinya.
Menurut Newcomb (dalam Arindita, 2003), ada beberapa sifat yang menyertai proses persepsi, yaitu:
1.        Seleksi adalah proses penyaringan oleh alat indera terhadap rangsangan dari luar, intensitas, dan jenisnya.
2.        Interpretasi, yaitu proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pengalaman masa lalu, sistem nilai yang di anut, motivasi, kepribadian, dan kecerdasan.
3.        Interpretasi dan persepsi diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi (Depdikbud, 1985, dalam Soelaeman, 1987)
Menurut Parcek (Walgito, 1995: 20) proses tersebut terdiri dari proses menerima, menyeleksi, mengorganisasi, mengartikan, menyajikan dan memberikan reaksi kepada rangsang panca indra.
1. Proses menerima rangsangan
Proses pertama dalam persepsi adalah menerima rangsang atau data dari berbagai sumber. Kebanyakan data diterima melalui panca indra, sehingga proses ini sering disebut dengan pengindraan, proses ini sering disebut sensasi. Menurut Desiderado (Walgito, 1995: 20) merupakan pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian secara verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama selalu berhubungan dengan panca indra. Disebut juga sebagai data dari berbagai sumber. Yakni seperti kebanyakan data menerima melalui pancaindra (melihat, mendengar, mencium, merasakan, atau menyentuhnya.
Schereer (Walgito, 1995: 21) mengemukakan bahwa rangsangan itu terdiri dari tiga macam sesuai dengan elemen dari proses penginderaan. Pertama rangsang merupakan obyek, ialah obyek dalam bentuk fisiknya atau rangsang distal. Kedua, rangsang sebagai keseluruhan yang terbesar dalam lapangan progsimal, ini belum menyangkut proses sistem syaraf. Ketiga, rangsang sebagai representasi fenomena atau gejala yang dikesankan dari obyek-obyek yang ada diluar.
2. Proses Menyeleksi Rangsang
Michell (Walgito, 1995: 18) menyatakan persepsi adalah suatu proses yang didalamnya mengandung proses seleksi ataupun sebuah mekanisme. Setelah menerima rangsang atau data diseleksi. Anderson (Walgito, 1995: 22) mengemukakan bahwa perhatian adalah proses mental, ketika rangsang atau rangkaian rangsang menjadi menonjol dalam keadaan pada saat yang lainnya melemah.
Di dalam  proses menyeleksi rangsangan Ini ada 3 pendapat pada pengaruh persepsi :
1.    Dibedakan dalam dua factor yakni factor intern dan eksteren yakni :
A.    Faktor intern
Factor yang berkaitan dengan diri sendiri, yakni :
a.         Kebutuhan psikoloi
Kadang-kadang ada hal yang “kelihatan” (yang sebenarnya tidak ada). Karena kebutuhan psikologi.
Contoh: orang yang haus akan melihat banyak air biasanya terjadi di tempat yang panas seperti padang pasir.
b.    Latar belakang
Latar belakang seseorang akan mempengaruhi factor intrern ini karena seseorang akan lebih mendekati orang lain yang memiliki latar belakang yang sama.
c.    Pengalaman
Serupa dengan latar belakang yakni factor pengalaman seperti seseorang yang mempunyai pengalaman buruk dalam bekerja dengan jenis orang tertentu.
d.   Kepribadian
Seseorang yang introvert mungkin akan tertarik kepada orang-orang yang serupa atau sama sekali berbeda.
e.    Sikap dan kepercayaan umum
Orang-orang yang mempunyai sikap tertentu terhadap karyawan wanita atau karyawan yang termasuk kelompok bahasa tertentu besar kemungkinan akan melihat berbagai hal kecil yang tidak diperhatikan orang lain.
f.     Penerimaan diri
Mereka yang ikhlas menerima kenyataan diri akan lebih tepat menyerap sesuatu daripada mereka yang kurang ikhlas menerima realitas dirinya.
g.    Factor ekstern
Persepsi ini dapat dilakukan atas persepsi visual terhadap barang-barang ataupun terhadap orang dan keadaan, seperti :
-          Intensitas
Rangsangan yang lebih intensif mendapatkan lebih banyak tanggapan daripada yang kurang intens.Misalnya, lampu yang lebih terang lebih diperhatikan orang ketimbang lampu yang redup pada malam hari.
-          Ukuran
Benda yang lebih besar lebih menarik perhatian dan lebih cepat dilihat.
-          Kontras
Hal-hal lain dari yang biasa kita lihat akan cepat menarik perhatian.
Misalnya, di kelas ada satu murid tidak mengenakan pakaian seragam maka itu akan menarik perhatian.
-          Gerakan
Hal-hal yang bergerak lebih menarik perhatian daripada hal-hal yang diam.

-          Ulangan
Hal-hal yang berulang misalnya, sebuah iklan yang selalu berulang sehingga orang ingat dengan produk itu namun ulangan yang terlalu sering akan menghasilkan kejenuhan semantic dan dapat kehilangan arti perseptif.
-          Keakraban
Hal ini terutama, jika hal tertentu tidak diharapkan dalam rangka tertentu.
Misalnya,  di kelas yang baru kita akan lebih tertarik kepada orang yang sudah kita kenal dari pada sama orang yang tidak kita kenal.
-          Sesuatu yang baru
Hal ini bertentangan dengan factor keakraban. Jika orang sudah biasa dengan kerangka yang sudah dikenal , maka sesuatu yang baru menarik perhatian.
Misalnya, pakaian kita yang sudah dikenal apabila tertukar pasti akan mengenal atau mengetahui bahwa pakaian itu bukan pakaiannya.
2.        Menurut Devito (1997)
Ada 6 proses yang mempengaruhi persepsi
a.        Teori kepribadian implisit
Teori ini mengacu pada teori kepribadian individual. Setiap orang mempunyai konsepsi tersendiri tentang suatu sifat berkaitan dengan sifat lainnya. Konsepsi ini merupakan teori yang dipergunakan orang ketika membentuk kesan tentang orang lain.
b.        Ramalan yang dipenuhi sendiri (self-fulfilling prophecy)
Ramalan yang dipenuhi sendiri terjadi bila kita membuat ramalan atau merumuskan keyakinan yang menjadi kenyataan karena anda membuat ramalan itu dan bertindak seakan–akan ramalan itu benar.
Ada 4 langkah dalam proses ini, yakni :
1.        Kita membuat prediksi atau merumuskan keyakinan tentang seseorang atau situasi. Misalnya, anda adalah orang yang canggung dalam situasi antar pribadi.
2.        Kita bersikap kepada orang atau situasi. Misalnya, di depan anda kita bersikap seakan-akan anda memang orang yang canggung.
3.        Keyakinan kita itu menjadi kenyataan
Misalnya, karena cara kita bersikap di depan anda , anda menjadi tegang dan salah tingkah serta menunjukan kecanggungan.
c.         Aksentuasi Perseptual
Ini membuat kita melihat apa yang kita harapkan dan apa yang ingin kita lihat.
Misalnya, kepada orang yang kita sukai menganggap bahwa dia itu tampan dan pandai daripada orang yang tidak kita suka, kontra argument ini adalah bahwa sebenarnya kita lebih menyukainya kepada tampan dan pandainya saja  bukan karena orang yang kita suka itu tampan dan pandai.
d.        Primasi-Resensi
Ini mengacu pada pengaruh relative stimulus sebagai akibat urutan kemunculannya.
-            Efek primasi = jika yang muncul pertama lebih besar pengaruhnya.
-            Efek resensi  = jika yang muncul kemudian mempunyai pengaruh yang lebih besar.
Imlikasi praktis dari efek primasi-resensi adalah kesan yang pertama tampaknya palingpenting. Dan orang lain akan menyaring tambahan informasi untuk merumuskan gambaran tentang seseorang yang mereka persepsikan.
e.         Konsistensi
Konsistensi mengacu pada kecenderungan untuk merasakan apa yang memungkinkan kita mencapai keseimbangan atau kenyamanan psikologis diantara berbagai sikap dan hubungan antar mereka.
Misalnya, saya berharap orang yang saya sukai menyukai saya dan saya berharap orang yang tidak saya sukaiuntuk tidak menyukai saya.
f.         Stereotyping
Stereotyping adalah prasangka tentang segolongan orang yang memenuhi persepsi dan penafsiran data yang telah diterima.
Misalnya, para menejer mempunyai persepsi bahwa manajer lebih jujur daripada pekerja, sebaliknya seorang pekerja menganggap mereka lebih jujur daripada manajer.
3.    Pendapat lain
Menurut pendapat ini terdapat 4:
a.         Fakror fungsional
Factor ini dihasilkan dari kbutuhan,kegembiraaan,pelayan dan pengalaman masa lalu sorang indiviudi, pada dasarnya persepsi yidak ditentukan dengan jenis / stimuli, tetapi bergantunh karskterlistrik. Misalnya,0rang yang lapar akan lebih tetari pada makanan, sedangkan orang yang harus akan lebih tertarik pada minuman.
b.        Factor structural
Factor ini dihasilkan dari bentuk stimuli dan efek-efek netral yang ditimbulkan dari system saraf individu.
Persepsi dari krech dan crutchfield.:
1.        Bila meresepsi sesuatu kita meresepsinya sebagai keseluruhan dan tidak melihat bagian-bagiannya.
2.        Meskipun stimuli yang diterima tidak lengkap, kita akan menginter prestasikannya secara consisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi.
3.        Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur pada umumnya ditentukan oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan.
4.        Bahwa objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagian dari struktur yang sama.
c.         Factor-faktor situasional
                  Factor ini banyak berkaitan dengan bahasa nonverbal.
d.        Factor personal
                  Factor personal yang terdiri atas pengalaman, motivasi,kepribadian (Rakhmat,1994).Pengalaman akan membantu seseorang dalam meningkatkan kemampuan persepsi < Leathers (1976:26-32) >.
Ini termasuk dengan kepribadian yany artinya ragam pola tingkah laku dan pikiran yang memiliki pola tetap yang dapat dibedakan dari orang lain yang merupakan karakteristik seorang individu.
3. Proses Pengorganisasian
Data atau rangsang yang diterima selanjutnya diorganisasikan dalam suatu bentuk. Pengorganisasian sebagai proses seleksi atau screening berarti beberapa informasi akan diproses dan yang lain tidak. Sebagaimana mekanisme pengorganisasian, berarti bahwa informasi-informasi yang diproses akan digolong-golongkan dan dikategorikan dengan beberapa cara. Hal ini akan memberikan arah untuk mengartikan sesuatu stimulus. Kategorisasi tersebut mungkin terjadi secara terperinci, yang terpenting adalah mengkategorikan informasi yang kompleks ke dalam bentuk yang sederhana.
Dalam perorganisasian rangsangan terdapat 3 dimensi utama, yakni:
1.      Pengelompokan
Berbagai rangsangan yang telah diterima dikelompokkan dalam satu bentuk. Adapun faktor yang digunakan untuk mengelompokkan rangsangan yakni :
a.       Kesamaan, rangsangan-rangsangan yang mirip dijadikan satu kelompok.
b.      Kedekatan, hal-hal yang lebih dekat antara satu dan yang lain juga dikelompokkan menjadi satu.
c.       Ada suatu kecenderungan untuk melengkapi hal-hal yang dianggap belum lengkap.
2.      Bentuk timbul dan latar
Prinsip lain dalam mengatur rangsangan disebut bentuk timbul dan latar.
Dalam melihat rangsangan atau gejala, ada kecenderungan untuk memusatkan perhatian pada gejala-gejala tertentu yang timbul menonjol, sedangkan rangsangan atau gejala lainnya berada dilatar belakang.
3.      Kemantapan persepsi
Ada suatu kecenderungan untuk menstabilkan persepsi dan perubahan-perubahan kontekstidak memengaruhinya.

4.        Prosese penafsiran
                 
                  Setelah rangsangan atau data diterima dan di atur, lalu sipenerima menafsirkan data tersebut maka dikatakanlah persepsi.
5.         Proses Pengambilan Keputusan dan Pengecekan
Tahap-tahap dalam pengambilan keputusan menurut Burner (Walgito, 1995: 22) adalah sebagai berikut : pertama kategori primitif, dimana obyek atau peristiwa yang diamati, diseleksi dan ditandai berdasarkan ciri-ciri tersebut. Kedua, mencari tanda (cue search), pengamatan secara cepat memeriksa (scanning) lingkungan untuk mencari tambahan informasi untuk mengadakan kategorisasi yang tepat. Ketiga, konfirmasi, ini terjadi setelah obyek mendapat penggolongan sementara. Pada tahap ini pengamatan tidak lagi terbuka untuk sembarang memasukan melainkan hanya menerima informasi yang memperkuat atau mengkonfirmasiakan keputusannya, masukan-masukan yang tidak relevan dihindari.
6.        proses reaksi
Tahap terakhir dari proses persepsi ialah bertindak sehubungan dengan apa yang telah di cerap. Seperti suatu tindakan, tindakanpun ada dua yakni tindakan yang tersembunyi dan tindakan yang terbuka.
C. PERKEMBANGAN PERSEPTUAL
Ketetapan perseptualadalah kecendrungan kita untuk mempertahankan persepsi yangtelah dimiliki terhadap suatu objek dengan mengabaikan perubahan warna (color),keterangan (brightness), ukuran (size), dan bentuk (shape).
Strategi untuk mengembangkan Integrasi Sistem Perseptual
Banyak anak yang kesulitan belajar karena tidak dapat melakukan transfer informasi dari suatu sistem perseptual ke sistem perseptual yang lain.  Transfer informasi yang mencakup integrasi dan  aktivitas :
1.        Visual ke Auditoris,   meminta anak melihat suatu pola titik-titik dan garis-garis; kemudian menyuruh anak meniru pola tersebut dalam bentuk ritmis pada drum.
2.        Auditoris ke Visual,   meminta anak mendengarkan irama ritmis dan memilih salah satu pola visual titik dan garis yang sesuai dari beberapa pilihan.
3.        Auditois  ke Motorvisual,  mendengar irama ritmis dan mengalihkan pada visual dengan menulis pasangan titik dan garis.
4.        Auditoris – verbal ke motor,  memerintah anak untuk melakukan gerakan-gerakan tertentu
5.        Taktil –Visualmotor,  meraba bentuk dan menggambarkan bentuk
6.        Auditoris ke Visual,  mendengar bunyi benda dan menunjukkan gambarnya

D. SIFAT-SIFAT PERSEPSI
            Dua fungsi utama sistem utama persepsi yaitu lokalisasi atau menentukan letak suatu objek dan pengenalan, menentukan jenis objek tersebut (Atkinson et al., t.t.). lokalisasi dan pengenalan dilakukan oleh daerah korteks yang berbeda. Penelitian persepsi juga mengurusi cara sistem perseptual mempertahankan bentuk objek tetap konstan, walaupun citra (bayangan) objek di retina berubah.            
Sifat umum persepsi antara lain, yaitu;
1.        Dunia persepsi mempunyai sifat-sifat  ruang. Mengenal persepsi ruang ini mengandung persoalan-prsoalan psikologis yang penting, terutama penglahatan sifat ruang (dimensi ketiga).
2.        Dunia persepsi mempunyai dimensi waktu.  Objek-objeknya bersifat tetap, sehingga terdapat kestabilan yang luas.
3.        Dunia persepsi berstruktur menurut objek persepsi. Dalam hal ini berbagai keseluruhan berdiri sendiri  menampakkan diri:Gestalt-gestalt. Persepsi gestalt merupakan suatu pembahasan yang penting dalam psikologi persepsi.
4.        Dunia persepsi yang penuh dengan arti. Persepsi tidaklah sama dengan mengonstatir benda dan kejadian tanpa makna. Yang kita persepsi selalu merupakan tanda-tanda, ekspresi, benda-benda dengan fungsi, relasi-relasi yang penuh arti, serta kejadian-kejadian.

E. BANTUK-BENTUK PERSEPSI

1. Persepsi visual

Persepsi visual didapatkan dari indera penglihatan.Persepsi ini adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi, dan mempengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya. Persepsi visual merupakan topik utama dari bahasan persepsi secara umum, sekaligus persepsi yang biasanya paling sering dibicarakan dalam konteks sehari-hari.

2. Persepsi auditori

Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga.

3. Persepsi perabaan

Persepsi pengerabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.

4. Persepsi penciuman

Persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung.
5.   Persepsi pengecapan
Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah.

F. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI
Wilson (2000) mengemukakan ada faktor dari luar dan dari dalam yang mempengaruhi persepsi diantaranya sebagai berikut :

a. Faktor eksternal atau dari luar :
1.      Concreteness yaitu wujud atau gagasan yang abstrak yang sulit dipersepsikan dibandingkan dengan yang obyektif.
2.      Novelty atau hal yang baru, biasanya lebih menarik untuk di persepsikan dibanding dengan hal-hal yang baru.
3.      Velocity atau percepatan misalnya gerak yang cepat untuk menstimulasi munculnya persepsi lebih efektif di bandingkan dengan gerakan yang lambat.
4.      Conditioned stimuli, stimuli yang di kondisikan seperti bel pintu, deringan telepon dan lain-lain.
b. Faktor internal atau dari dalam :
1.      Motivation, misalnya merasa lelah menstimulasi untuk berespon untuk istirahat.
2.      Interest, hal-hal yang menarik lebih di perhatikan dari pada yang tidak menarik
3.      Need, kebutuhan akan hal tertentu akan menjadi pusat perhatian
4.      Assumptions, juga mempengaruhi persepsi sesuai dengan pengalaman melihat, merasakan dan lain-lain.
Menurut Rahmat (2005) faktor-faktor personal yang mempengaruhi persepsi interpersonal adalah:
1.       Pengalaman. Seseorang yang telah mempunyai pengalaman tentang hak-hak tertentu akan mempengaruhi kecermatan seseorang dalam memperbaiki persepsi.
2.       Motivasi. Motivasi yang sering mempengaruhi persepsi interpersonal adalah kebutuhan untuk mempercayai “dunia yang adil” artinya kita mempercayai dunia ini telah diatur secara adil.
3.       Kepribadia.  Dalam psikoanalisis dikenal sebagai proyeksi yaitu usaha untuk mengeksternalisasi pengalaman subyektif secara tidak sadar, orang mengeluarkan perasaan berasalnya dari orang lain.
Menurut Walgito (1995: 22) terdapat dua yaitu faktor ektern dan intern.
1. Faktor Internal
Faktor yang mempengaruhi persepsi berkaitan dengan kebutuhan psikologis, latar belakang pendidikan, alat indera, syaraf atau pusat susunan syaraf, kepribadian dan pengalaman penerimaan diri serta keadaan individu pada waktu tertentu.
2. Faktor Eksternal
Faktor ini digunakan untuk obyek yang dipersepsikan atas orang dan keadaan, intensitas rangsangan, lingkungan, kekuatan rangsangan akan turut menentukan didasari atau tidaknya rangsangan tersebut.
Menurut Walgito (2004: 89-90) agar individu dapat menyadari dan dapat membuat persepsi, adanya faktor- faktor yang berperan, yang merupakan syarat agar terjadi persepsi, yaitu berikut ini:
a. Adanya objek atau stimulus yang dipersepsikan (fisik).
b. Adanya alat indera, syaraf, dan pusat susunan saraf untuk menerima stimulus (fisiologis).
c. Adanya perhatian yang merupakan langkah pertama dalam mengadakan persepsi (psikologis).
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi menurut Widayatun (1999: 115) meliputi :
1. Intrinsik dan ekstrinsik seseorang (cara hidup/cara berfikir, kesiapan mental, kebutuhan dan wawasan)
2. Faktor Ipoleksosbud Hankam
3. Faktor usia
4. Faktor kematangan
5. Faktor lingkungan sekitar
6. Faktor pembawaan
7. Faktor fisik dan kesehatan
8. Faktor proses mental

Krech dan Crutchfield (1977) menyebutkan persepsi ditentukan oleh faktor fungsional dan faktor struktural. Faktor-faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu, kesiapan mental, suasana emosi dan latar belakang budaya, atau sering disebut faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respon pada stimuli tersebut.
Sedangkan faktor struktural berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-efek syaraf yang ditimbulkannya pada system syaraf yang ditimbulkannya pada system syaraf individu. Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang kita terima tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interpretasi yang berkonsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsikan.

G. CIRI-CIRI UMUM DUNIA PERSEPSI
Penginderaan terjadi dalam suatu konteks tertentu, konsep ini biasa disebut dunia persepsi. Agar dapat dihasilkan suatu penginderan yang bermakna, ada ciri – ciri umum tertentu dalam dunia persepsi :
1.        Modalitas :  rangsangan yang diterima harus sesuai dengan modalitas tiap –tiap indera, yaitu sifat sensori dasar  masing-masing.
2.        Dimensi ruang : dunia persepsi mempunyai sifat ruang ( dimensi ruang).
3.        Dimensi waktu : dunia persepsi mempunyai dimensi waktu, seperti cepat lambat, tua muda, dan lain-lain.
4.        Struktur konteks, keseluruhan yang menyatu : objek-objek atau gejala-gejala dalam dunia pengamatan mempunyai struktur yang menyatu dengan konteksnya. Struktur dan konteks ini merupakan keseluruhan yang menyatu.
5.        Dunia penuh arti; dunia persepsi adalah dunia penuh arti. kita cenderung pengamatan pada gejala-gejala yang mempunyai makna bagi kita, yang ada hubungannya dengan tujuan yang ada dalam diri kita.
H. HUKUM-HUKUM GESTALT
Ada beberapa cara persepsi berdasarkan totalitas Gestalt:
a.         Hukum kedekatan (proximity): objek-objek persepsi yang berdekatan cenderung diamati sebagai suatu kesatuan.
b.        Hukum kesamaan (similarity): Objek cenderung diamati sebagai totalitas karena mempunyai sebagian besar ciri-ciri yang sama.
c.         Hukum bentuk-bentuk tertutup (closure): bentuk-bentuk yang sudah kita kenal, walau hanya nampak sebagian atau tidak sempurna, kita lihat sebagai sempurna.
d.        Hukum kesinambungan (continuity): pola-pola yang sama dan berkesinambungan, walau ditutup oleh pola-pola lain, tetap diamati sebagai kesatuan.
e.         Hukum gerak bersama (common fate): unsur-unsur yang bergerak dengan cara dan arah yang sama dilihat sebagai suatu kesatuan.
I. PERSEPSI DAN SENSASI
Dari segi bahasa, sensasi berasal dari kata sense yang artinya alat penginderaan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungan. Jadi, yang dimaksud dengan sensasi adalah proses menangkap stimuli (rangsang). Misalnya, ketika dua orang sedang berkomunikasi, maka masing-masing dapat melihat fisiknya dengan penglihatan, mendengar suaranya dengan pendengaran, mencium harum parfum yang dipakai dengan penciumannya dan merasakan kehalusan kulitnya ketika bersalaman. Seluruh yang ditangkap oleh indera tersebut disebut stimuli atau rangsang. Terkadang orang dapat menerima dua stimuli sekaligus, misalnya ketika kita sedang menonton TV (stimuli ekternal), datang pula stimuli dari dalam, yaitu ingatan kepada orang tua di kampung yang sedang menderita sakit dan menunggu kedatangan kita.

Selain itu, sensasi dapat pula diartikan sebagai tahap pertama stimuli mengenai indra kita. Menurut Dennis Coon, “Sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal. Simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera.”

Perbedaan sensasi dapat disebabkan oleh kapasitas alat indera yang berbeda, dan oleh pengalaman atau lingkungan yang berbeda. Masakan yang dirasa sangat pedas oleh lidah orang Yogya terasa biasa-biasa saja oleh lidah orang Minang. Sebaliknya kata-kata keras yang dirasa sopan-sopan saja oleh orang Medan dirasa sangat mengganggu oleh telinga orang Jawa.

Fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera. Kita mengelompokannya pada tiga macam indera penerima, sesuai dengan sumber informasi. Sumber informasi boleh berasal dari dunia luar (eksternal) atau dari dalam diri (internal). Informasi dari luar diindera oleh eksteroseptor (misalnya, telinga atau mata). Informasi dari dalam diindera oleh ineroseptor (misalnya, system peredaran darah). Gerakan tubuh kita sendiri diindera oleg propriseptor (misalnya, organ vestibular).

Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak. Proses kognisi dimulai dari persepsi. Persepsi adalah proses memberi makna kepada sensasi sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru. Persepsi adalah proses mengubah sensasi menjadi informasi. Ketika kita mendengar orang berkata silat, padahal ia berkata salat, maka kita keliru sensasi, tetapi ketika seorang pria memuji kekasihnya dengan perkataan, engkau adalah wanita tercantik di dunia, tetapi kekasihnya merasa disindir dengan perkataan itu, maka kekasihnya disebut keliru persepsi. Kekeliruan sensasi juga dapat menyebabkan kekeliruan persepsi.

            Persepsi bisa keliru disebabkan oleh berbagai faktor; personal, situasional, fungsional maupun struktural. Diantara faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap persepsi adalah perhatian, konsep fungsional      dan konsep struktural.
Persepsi Terhadap Diri Pribadi (self-perception)
Proses psikologis diasosiasikan dengan interpretasi dan pemberian makna terhadap orang atau objek tertentu, dikenal dengan persepsi. Persepsi didefenisikan sebagai interpretasi terhadap berbagai sensasi sebagai representasi dari objek-objek eksternal, jadi persepsi adalah pengetahuan yang dapat ditangkap oleh indera kita, karenanya persepsi mensyaratkan:
1. adanya objek eksternal yang dapat ditangkap oleh indera kita.
2. adanya informasi untuk diinterpretasikan.
3. menyangkut sifat representatif dari penginderaan.
Karenanya persepsi tidak lebih dari sekedar pengetahuan mengenai apa yang tampak sebagai realitas bagi diri kita. Realitas yang kita persepsikan seringkali adalah yang paling jelas, pribadi, penting dan terpercaya bagi kita. Sementara indera kita punya keterbatasan, karenanya bisa jadi pengetahuan yang kita simpulkan bukanlah suatu kenyataan yang sebenarnya.

J. PERSEPSI DAN KOGNISI
            Secara singkat persepsi dapat di definisikan sebagai cara manusia menangkap rangsangan. Kognisi adalah cara menusia memberi arti pada rangsangan. Istilah kognisi berasal dari bahasa Latin cognoscere yang artinya mengetahui. Kognisi dapat pula diartikan sebagai pemahaman terhadap pengetahuan atau kemampuan untuk memperoleh pengetahuan.Istilah ini digunakan oleh filsuf untuk mencari pemahaman terhadap cara manusia berpikir. Karya Plato dan Aristotle telah memuat topik tentang kognisi karena salah satu tujuan tujuan filsafat adalah memahami segala gejala alam melalui pemahaman dari manusia itu sendiri.
Kognisi dipahami sebagai proses mental karena kognisi mencermikan pemikiran dan tidak dapat diamati secara langsung. Oleh karena itu kognisi tidak dapat diukur secara langsung, namun melalui perilaku yang ditampilkan dan dapat diamati. Misalnya kemampuan anak untuk mengingat angka dari 1-20, atau kemampuan untuk menyelesaikan teka-teki, kemampuan menilai perilaku yang patut dan tidak untuk diimitasi.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kognisi maka berkembanglah psikologi kognitif yang menyelidiki tentang proses berpikir manusia. Proses berpikir tentunya melibatkan otak dan saraf-sarafnya sebagai alat berpikir manusia oleh karena itu untuk menyelidiki fungsi otak dalam berpikir maka berkembanglah neurosains kognitif. Hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh kedua bidang ilmu tersebut banyak dimanfaatkan oleh ilmu robot dalam mengembangkan kecerdasan buatan.
Proses kognitif menggabungkan antara informasi yang diterima melalui indera tubuh manusia dengan informasi yang telah disimpan di ingatan jangka panjang. Kedua informasi tersebut diolah di ingatan kerja yang berfungsi sebagai tempat pemrosesan informasi. Kapabilitas pengolahan ini dibatasi oleh kapasitas ingatan kerja dan faktor waktu. Proses selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan yang telah dipilih. Tindakan dilakukan mencakup proses kognitif dan proses fisik dengan anggota tubuh manusia (jari, tangan, kaki, dan suara). Tindakan dapat juga berupa tindakan pasif, yaitu melanjutkan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya.
Faktor yang memengaruhi kesulitan dan kecepatan pemilihan dan pelaksanaan respon adalah kompleksitas keputusan, perkiraan terhadap respon, trade-off kecepatan dan akurasi, dan feedback yang diperoleh (Groover, 2007). Kompleksitas keputusan dipengaruhi oleh jumlah tindakan yang mungkin dipilih, yang juga berpengaruh terhadap lamanya waktu pengambilan keputusan. Perkiraan terhadap respon dipengaruhi oleh informasi yang diterima. Jika informasi yang diterima telah diperkirakan sebelumnya, pemrosesan informasi akan lebih cepat dibandingkan dengan yang tidak diperkirakan. Trade-off antara kecepatan dan akurasi merupakan korelasi negative antara keduanya pada pemilihan dan pelaksanaan respon. Dalam beberapa situasi, semakin cepat seseorang memilih respon, kemungkinan kesalahan terjadi meningkat. Feedback merupakan efek yang diketahui oleh seseorang sebagai verifikasi atas tindakan yang dilakukannya. Rentang waktu antara tindakan dengan feedback harus diminimasi.
Dalam hubungan antara persepsi dan kognisi, teori medan Lewin menyatakan bahwa proses persepsi dan kognisi berarti proses perombakan medan kognisi yang tidak berstruktur menjadi medan yang berstruktur (Wurjo dan Saefullah, 1983:73).
            Persepsi dan kognisi tentang lingkungan merupakan komponen dari orientasi dan pencitraan lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat. Persepsi dan kognisi tentang lingkungan sejajar dengan Istilah “kesadaran akan lingkungan” sehingga berinteraksi dengan proses evaluasi yang memuat komponen-komponen kognitip, emosi, dan psikomotor.
            Teori psikologi kognitip menurut pandangan psikologi Gestalt di Jerman beberapa saat seselum perang dunia II, berpendapat bahwa persepsi manusia terhadap lingkungannya tidak mengandalkan pada apa yang diterima dari penginderaannya, tetapi penginderaan itu di atur, saling dihubungkan, dan diorganisasikan untuk diberi makna, selanjutnya di jadikan awal dari suatu prilaku.
K.  ILUSI
Ilusi adalah suatu kejadian dimana terjadi karena kesalahan penangkapan mata manusia dalam melihat sebuah objek atau benda. Ilusi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu ilusi fisiologis dan ilusi kognitif.
1. Ilusi fisiologis
Ilusi fisiologis, seperti yang terjadi pada afterimages atau kesan gambar yang terjadi setelah melihat cahaya yang sangat terang atau melihat pola gambar tertentu dalam waktu lama. Ini diduga merupakan efek yang terjadi pada mata atau otak setelah mendapat rangsangan tertentu secara berlebihan.
2.  Ilusi kognitif
Ilusi kognitif adalah terjadi karena anggapan pikiran terhadap sesuatu di luar. Pada umumnya ilusi kognitif dibagi menjadi ilusi ambigu, ilusi distorsi, ilusi paradoks dan ilusi fiksional.

a. Pada ilusi ambigu, gambar atau objek bisa ditafsirkan secara berlainan. Contohnya adalah: kubus Necker dan vas Rubin.
b. Pada ilusi distorsi, terdapat distorsi ukuran, panjang atau sifat kurva (lurus lengkung). Contohnya adalah: ilusi dinding kafe dan ilusi Mueller -Lyer.
c. Ilusi paradoks disebabkan karena objek yang paradoksikal atau tidak mungkin, misalnya pada segitiga Penrose atau 'tangga yang mustahil', seperti misalnya terlihat pada karya seni grafis M C Escher, berjudul "Naik dan Turun" serta "Air Terjun".
d. Ilusi fiksional didefinisikan sebagai persepsi terhadap objek yang sama sekali berbeda bagi seseorang tapi bukan bagi orang lain, seperti disebabkan karena schizoprenia atau halusinogen. Ini lebih tepatnya disebut dengan halusinasi.

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak. Proses kognisi dimulai dari persepsi.
Jenis-jenis persepsi berdasarkan alat indera, yaitu persepsi visual, persepsi auditori, persepsi perabaan, persepsi penciuman, dan persepsi pengecapa.
Agar seseorang dapat menyadari dan dapat melakukan persepsi ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi, yaitu :
Adanya objek yang dipersepsi. Objek menimbulkan stimulusyang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar langsung mengenai indera dan dapat datang dari dalam yang langsung mengenai syaraf penerima (sensoris) tapi berfungsi sebagai reseptor.Adanya indera atau reseptor, yaitu sebagai alat untuk menerima stimulus.  Diperlukan adanya perhatian sebagai langkah awal menuju persepsi.
Sebagian besar dari prinsip-prinsip persepsi merupakan prinsip pengorganisasian berdasarkan teori Gestalt. Teori Gestalt percaya bahwa persepsi bukanlah hasil penjumlahan bagian-bagian yang diindera seseorang, tetapi lebih dari itu merupakan keseluruhan [the whole]. Teori Gestalt menjabarkan beberapa prinsip yang dapat menjelaskan bagaimana seseorang menata sensasi menjadi suatu bentuk persepsi.
B.     SARAN
Kajian-kajian tentang persepsi masih sangat perlu untuk ditingkatkan, karena persepsi sangat penting bagi guru sebagai tenaga pendidik untuk dapat memahami cara berpikir peserta didiknya.


DAFTAR PUSTAKA
Drs. Sobur, Alex, M.Si., Psikologi Umum, Pustaka Setia, Bandung, 2010.
Saswono W, Sarlto,Pengantar Psikologi, Bulan Bintang, Jakarta, 2003.
Drs. Fauji, Ahmad, Psikologi Umum, Pustaka Setia, Bandung, 1997.



















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar